INPUTRAKYAT_MORUT,–Ribuan langkah manusia perlahan memadati Lapangan Morokoa, Kolonodale, Minggu (12/4/2026). Dari berbagai penjuru, mereka datang dengan satu tujuan yang sama yakni mengenang sosok ulama besar, Idrus bin Salim Al-Jufri, atau yang akrab dikenal sebagai Guru Tua.
Suasana religius begitu terasa dengan pembacaan surat yasin dan tahlil yang mengaantarkan para pimpinan Alkhairaat pusat dari pintu masuk hingga ke tempat duduknya.
Mereka adalah Ketua Utama Habib Alwi bin Saggaf Aljufri dan Ketua Umum PB Alkhairaat Mohsen Alaydrus, bersama jajaran pengurus Allhairaat.
Kehadirannya menambah bobot spiritual acara, sekaligus menghidupkan kembali kisah-kisah awal perjuangan Guru Tua, tentang keterbatasan, kesederhanaan, dan keteguhan dalam berdakwah melalui pendidikan.
Selain itu, di tengah kerumunan yang mencapai sekitar 7.000 jamaah, tak sekadar doa yang dipanjatkan, tetapi juga rasa rindu, hormat, dan cinta kepada sosok yang telah meletakkan fondasi pendidikan Islam melalui Alkhairaat.
Haul ke-58 ini bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan batin antara masa lalu dan masa kini, antara perjuangan yang pernah ditanamkan Guru Tua dan harapan yang terus tumbuh di generasi penerus.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Hj Warda Dg. Mamala, yang sejak awal menegaskan bahwa haul bukan hanya tentang mengenang, tetapi melanjutkan perjuangan.
Guru Tua dikenal bukan karena kemewahan, melainkan karena keteladanan. Ia membangun peradaban dari kesederhanaan, menyemai ilmu di tengah keterbatasan, dan menanamkan nilai Islam yang moderat, seimbang, serta penuh toleransi. Hingga hari ini, jejak itu masih terasa terutama di wilayah Morowali Utara.
Di daerah ini, nama H. Baso Dg. Mamala turut menjadi bagian dari sejarah. Ia dikenal sebagai sosok yang tak kenal lelah menyebarkan ajaran Alkhairaat, bahkan harus menempuh perjalanan darat dan laut demi mengajak masyarakat menyekolahkan anak-anak mereka di Alkhairaat.
Bagi Hj Warda, haul ini adalah bukti bahwa cinta kepada Guru Tua masih hidup. Ia menyebut, pelaksanaan kegiatan ini tidak didorong oleh materi, melainkan ketulusan dan harapan akan keberkahan.
“Ini bukan soal materi, tapi kecintaan kita semua kepada Guru Tua,” ungkapnya saat menyampaikan sambutan, dan disambut aplous dari masayarakat yang hadir.
Namun, dari panggung haul ini, lahir pula langkah nyata. Di hadapan ribuan jamaah, Hj Warda mengumumkan bahwa keluarganya, termasuk H. Ahmad Dg Mamala, H. Muhlis Dg. Mamala, dan H. Baso Dg Mamala akan menghibahkan lahan seluas 20 hektare.
Lahan itu direncanakan untuk pembangunan pesantren dan Rumah Sakit Alkhairaat di Morowali Utara. Sebuah langkah besar yang menghubungkan warisan spiritual dengan kebutuhan nyata masyarakat hari ini.
Tak hanya sekadar rencana, pondasi pembiayaan telah disiapkan. Bahkan, keberlanjutan operasional nantinya akan didukung melalui usaha keluarga di sektor perkebunan dan peternakan.
Pengumuman tersebut disambut antusias. Bagi para jamaah, ini bukan hanya kabar baik, tetapi juga harapan baru bahwa perjuangan Guru Tua akan terus hidup, tidak hanya dalam doa, tetapi juga dalam karya nyata.
Rencana hibah ini mendapat sambutan positif dari jamaah dan tokoh Alkhairaat.
Menurut Habib Alwi bin Saggaf Aljufri, kegiatan seperti ini memiliki dampak besar dalam menjaga nilai keagamaan dan keharmonisan masyarakat. Ia pun berharap dukungan pemerintah daerah agar kegiatan haul dapat terus berlanjut setiap tahun.
Lebih dari itu kata Habib Alwi, rencana pembangunan pesantren dan rumah sakit dinilai sebagai langkah strategis, mengingat perkembangan Alkhairaat selama ini tumbuh dari bawah serta kebutuhan masyarakat, bukan semata dari pusat.














