Example 728x250
Example 728x250
Ragam

Dua Ton Sampah Diangkat dari Pulau Bulu Polo’e, PT CLM Mulai Pulihkan Terumbu Karang

12
×

Dua Ton Sampah Diangkat dari Pulau Bulu Polo’e, PT CLM Mulai Pulihkan Terumbu Karang

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM, — Pemandangan Pulau Bulu Polo’e, Luwu Timur, berubah setelah aksi bersih-bersih digelar selama dua hari, 26–27 September 2026.

Ratusan karung dan kantong berisi sampah berhasil dikumpulkan dari kawasan pulau tersebut.

Yang paling banyak ditemukan ialah botol plastik bekas air mineral.

Total sampah yang diangkut dalam kegiatan itu ditaksir mencapai sekitar dua ton.

Jumlah tersebut sekaligus menunjukkan besarnya persoalan sampah plastik yang masih dihadapi kawasan pesisir Pulau Bulu Polo’e.

Tak hanya persoalan sampah.

Kondisi terumbu karang di sekitar pulau juga menjadi perhatian setelah survei sebelumnya menunjukkan adanya kerusakan pada ekosistem bawah laut.

Kondisi itu kemudian mendorong PT Citra Lampia Mandiri (CLM) menggabungkan kegiatan World Cleanup Day dengan aksi transplantasi terumbu karang.

Sebanyak 70 peserta terlibat dalam kegiatan tersebut.

Mereka berasal dari berbagai unsur, mulai dari Polair, TNI AL, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pariwisata, pegiat lingkungan dan literasi, Karang Taruna, Kwarcab Pramuka Luwu Timur, media yang tergabung dalam JMSI, PMI, Basarnas, Mori Diving Club hingga sejumlah komunitas lainnya.

Bersihkan Pulau, Pulihkan Laut

Manajer Eksternal PT CLM, Fauzi Lukman, mengatakan persoalan lingkungan di Pulau Bulu Polo’e membutuhkan penanganan yang tidak berhenti pada pengangkutan sampah.

Menurutnya, kawasan tersebut juga membutuhkan langkah pemulihan ekosistem laut.

“Kondisi ini menjadi perhatian kami. Karena itu, PT CLM berinisiatif menggelar World Cleanup Day dan Transplantasi Terumbu Karang,” kata Fauzi.

Ia menjelaskan, kegiatan bersih-bersih dan transplantasi sengaja dilakukan secara bersamaan.

Tujuannya agar penanganan kawasan dilakukan dari dua sisi, yakni menjaga kebersihan daratan sekaligus memperbaiki ekosistem bawah laut.

“Ini menjadi kolaborasi kita bersama untuk menjaga pulau tersebut, sehingga ekosistem di perairan maupun pulaunya tetap terjaga,” ujarnya.

100 Spider Dipasang

Dalam aksi tersebut, Mori Diving Club mengerahkan delapan penyelam untuk melakukan transplantasi terumbu karang.

Pemasangan dilakukan pada kedalaman sekitar 10 meter.

Sebanyak 100 bibit terumbu karang ditanam menggunakan media spider.

Spider merupakan kerangka berbahan besi yang dibuat menyerupai bentuk laba-laba dan digunakan sebagai media penempatan bibit terumbu karang.

PT CLM menargetkan restorasi terumbu karang mencapai area sekitar 0,5 hektare hingga 2029.

Untuk mendukung target tersebut, perusahaan menyiapkan sekitar 500 hingga 1.000 spider secara bertahap.

“Target kita, tahun 2029, 0,5 hektare harus kami selesai transplantasi terumbu karang,” kata Fauzi.

Ia menegaskan, pemulihan kawasan Bulu Polo’e tidak bisa hanya melihat kondisi di daratan.

“Jadi kita urus daratnya, kita juga urus lautnya,” tambahnya.

Sampah Plastik Jadi Perhatian

Pemerhati lingkungan, Sakir Malakkani, mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, persoalan sampah plastik bukan hanya tanggung jawab pemerintah maupun perusahaan.

Perubahan perilaku masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga kawasan pesisir.

“Ini tentang sampah yang menjadi musuh bersama. Edukasi sampah, terutama sampah plastik, sangat penting,” ujarnya.

Sakir juga mengingatkan bahwa Bulu Polo’e memiliki nilai yang lebih luas.

Selain menyimpan potensi ekologis, kawasan tersebut juga memiliki keterkaitan dengan sejarah dan kebudayaan Tanah Luwu, termasuk narasi yang berkaitan dengan I La Galigo.

Karena itu, menurutnya, menjaga Bulu Polo’e berarti menjaga lingkungan sekaligus bagian dari warisan kawasan Luwu.

Libatkan Masyarakat

Perwakilan Karang Taruna Desa Baruga, Okeng, menilai keberlanjutan program lingkungan membutuhkan keterlibatan banyak pihak.

Perusahaan, pemerintah, komunitas, organisasi kepemudaan dan masyarakat harus memiliki kepedulian yang sama.

“Program lingkungan ini perlu keterlibatan semua pihak, terutama perusahaan,” katanya.

Ia berharap aksi tersebut tidak berhenti setelah sampah diangkut dan kegiatan transplantasi selesai.

Menurutnya, masyarakat yang beraktivitas di sekitar pesisir juga harus memiliki kesadaran untuk menjaga laut dari sampah.

“Kesadaran ini harus dari diri sendiri,” ujarnya.

Dua Ton Sampah, Pekerjaan Belum Selesai

Pengangkutan sekitar dua ton sampah menjadi langkah awal dalam upaya menjaga Pulau Bulu Polo’e.

Tantangan berikutnya ialah memastikan sampah tidak kembali menumpuk.

Di saat yang sama, proses pemulihan terumbu karang juga membutuhkan waktu dan perawatan berkelanjutan.

PT CLM pun mendorong kolaborasi dengan komunitas lingkungan, pemerintah dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan program tersebut.

Target restorasi 0,5 hektare terumbu karang hingga 2029 menjadi bagian dari rencana jangka panjang perusahaan.

Dengan demikian, kegiatan di Bulu Polo’e diharapkan tidak sekadar menjadi agenda bersih-bersih tahunan.

Lebih jauh, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memulihkan ekosistem pesisir dan laut secara bertahap.

Dua ton sampah yang berhasil diangkat menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan belum selesai ketika sampah masuk ke dalam karung.

Pekerjaan yang lebih besar justru memastikan sampah tidak kembali ke laut dan ekosistem yang rusak dapat dipulihkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *