Example 728x250
Example 728x250
Input Regional

Jusuf Kalla Raih Gelar Doktor Honoris Causa di UIN Alauddin Makassar

544
×

Jusuf Kalla Raih Gelar Doktor Honoris Causa di UIN Alauddin Makassar

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_MAKASSAR,–Wakil Presiden Republik Indonesia H.M. Jusuf Kalla menerima gelar kehormatan ke-9, doktor honoris causa dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dalam bidang Sosiologi Agama.

“Pemberian gelar  doktor honoris causa kepada Bapak H.M Jusuf Kalla dalam bidang Sosiologi Agama tidak lahir begitu saja, semuanya telah melalui kajian mendalam dan proses akademik serius” ujar Rektor UIN Alauddin Prof Musafir Pababari, Pada Inaugurasi Gelar Doktor HC H.M. Jusuf Kalla, dalan sambutannya di Auditorium Kampus UIN Alauddin, Kamis (25/01/18).

Prof Musafir Pababari melihat peran dan kontribusi Wakil presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla dalam menciptakan perdamaian di berbagai daerah konflik, seperti Ambon, Poso, dan Aceh, sebagai alasan pertimbangan pemberian gelar dalam bidang Sosiologi Agama. Menurutnya JK tidak hanya teoritis tentang pentingnya perdamaian, tetapi menjadi aktor yang terlibat langsung dalam mewujudkan perdamaian.

Sementara itu, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada sambutannya, menyampaikan rasa Terima kasihnya Kepada Pihak UIN Alauddin atas penganugerahan Gelar Doktor Honoris Causa (Dr HC) kepadanya.

“Saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Rektor UIN Makassar, Prof. Dr. H. Musafir Pababbari, MSi dan Senat Universitas yang memutuskan penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (Dr HC) pada saya. Terimakasih wa bil khusus kepada Promotor Prof. Dr. H. Musafir Pababbari, MSi, dan kedua ko-promotor Prof. Dr. Ahmad M. Sewang, MA dan Prof Hamdan Juhannis, MA, PhD.

Semoga penganugerahan gelar Dr HC kepada saya dalam bidang Sosiologi Agama, khususnya tentang perdamaian dalam perspektif agama, ekonomi dan politik dapat mendorong meningkatkan usaha menciptakan perdamaian dalam berbagai level kehidupan sejak dari lokal, nasional, regional sampai internasional lebih luas.

“Saya senang berbicara tentang perdamaian dengan mengatasi konflik dan kekerasan guna menciptakan perdamaian dan rekonsiliasi. Berdasarkan pengalaman pribadi secara langsung dalam mengakhiri konflik di Ambon, Poso dan Aceh, saya dapat memberikan refleksi tentang bagaimana menciptakan perdamaian (crafting peace). Membangun perdamaian adalah ‘seni’ yang bersumber dari ketekunan, kegigihan dan keahlian” ungkap JK

Sementara kalangan berpendapat, agama adalah sumber konflik dan kekerasan yang mengancam perdamaian dan kedamaian.

“Memang terdapat kelompok yang atas nama agama melakukan tindakan kekerasan dan terorisme di berbagai negara, termasuk Indonesia. Tetapi orang-orang atau kelompok seperti ini tidaklah representasi umat beragama secara keseluruhan; mereka hanyalah segelintir orang yang menggunakan agama untuk menjustifikasi konflik dan kekerasan yang tidak bisa dibenarkan” jelas JK.

Jk memaparkan, terbukti bahwa pelaku kekerasan atas nama agama tersebut bukanlah orang atau kelompok yang dikenal sebagai pengamal agama yang taat. Banyak di antara mereka juga tidak memahami agama dengan benar. Dengan melakukan kekerasan, mereka seolah ‘menemukan’ agama kembali.

“Oleh karena itulah saya meyakini bahwa agama bukan sumber konflik dan kekerasan. Semua agama sangat menekankan ajaran tentang perdamaian dan kedamaian. Misalnya Islam yang namanya saja berarti ‘damai’. Islam datang adalah untuk menjadi rahmat bagi alam semesta, seperti ditegaskan.

Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, ‘wa ma arsalnaka illa rahmatan lil ‘alamin’—tidaklah Kami mengutus engkau [Muhammad] kecuali untuk menjadi rahmat bagi alam semesta (Surah al-Anbiya 107). Jadi tegas dan jelas, Islam datang bukan untuk menciptakan konflik dan kekerasan” paparnya.

Terakhir JK menambahkan,  walaupun Indonesia penuh dengan keragaman dan kebhinnekaan, tetapi tradisi kerukunan dan kedamaian merupakan salah satu distingsi wilayah ini sejak waktu lama. Sepanjang sejarahnya, Indonesia tidak pernah mengalami konflik, kekerasan atau perang yang berlangsung lama dan luas.

Pada kegiatan tersebut turut dihadiri seluruh Forkopimda Sulawesi Selatan, Mentri Agama RI dan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo.

Liputan: Noya | Editor: Zhakral.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *