Kisruh Antara Kapus Wawondula dan Bidannya Berujung Damai

  • Whatsapp

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Persoalan antara Kapus Wawondula, H. Samuddin dan bidan Hasni berujung damai setelah keduanya menyelesaikan secara kekeluargaan di Kantor Polsek Towuti, Senin (11/05/2020).

Penyelesaian persoalan tersebut di pimpin langsung Kapolsek Towuti, AKP Martinus Wemben didampingi Camat Towuti, Alimuddin Nasir yang dihadiri Kades Baruga, para saksi dan Ketua DPW FPI Luwu Timur, Rauf Dewang.

Diketahui, dalam kesepakatan perdamaian tersebut melahirkan lima poin yakni,

1. Kepala Puskesmas berjanji tidak akan mengulangi ucapannya dan sangat menyesal atas sikap dan ucapannya khususnya kepada Umat Islam dan Korban Bidan Hasni.

2. Berjanji memperbaiki kinerja dan kepemimpinannya yang selama ini terkesan arogan dan kurang memberikan teladan yang baik bagi bawahan.

3. Menyatakan bahwa bidan Hasni benar-benar tidak pernah melakukan tindakan tanpa berkoordinasi ke atasannya sebagaimana yang diakui kepala Puskesmas sebelumnya.

4. Bersedia ditinjau kembali penempatan sebagai kepala Puskesmas Towuti.

5. Berterima kasih kepada seluruh umat Islam khususnya korban dan perwakilan FPI Luwu Timur yang telah mengingatkan kekhilafan dan kesalahan yang telah diperbuat.

Dihadapan pelapor dan seluruh yang hadir, Kapus Wawondula, H. Samuddin menuturkan permohanan maaf yang sebesar-besarnya terhadap keluarga bidan Hasni (pelapor) atas ucapan saya “pa’kudung (jilbab) t*i as*” yang sangat menyakiti atau melukai perasaannya.

“Saya juga mengucapkan permohonan maaf keseluruh muslimah di dunia maupun di Indonesia atas ucapan tersebut. Oleh sebab itu, saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ini,” tutupnya.

Sementara itu, Hermiady suami pelapor bidan Hasni mengatakan, bahwa tindakan istri saya sebagaimana disebutkan telah dua kali melakukan kesalahan yakni melampaui kewenangan pak Kapus ternyata tidak terbukti dan hanya persoalan miskomunikasi.

“Ini hanya pembelajaran bagi kita semua bahwa untuk mengeluarkan kata-kata agar selalu berhati-hati jangan sampai kita lukai hati orang lain, demikian pula seorang pimpinan terhadap bawahannya,” tuturnya.

Senada dari itu, Ketua DPW FPI Luwu Timur yang turut mendampingi pelapor mengatakan, kalau perkara agama itu bukan hal main-main. Siapa pun itu meskipun ummat Islam yang melakukan hal tersebut tetap akan diberikan sanksi.

Melalui mediasi ini kami apresiasi oknum Kapus mengakui kesalahannya. Terakhir, kami juga menghimbau ke Kadis Kesehatan Lutim agar kedepannya selektif menempatkan kepala Puskesmas yang layak, tidak arogan, memiliki leadership dan berakhlak tul karima.

“Kasus seperti ini sudah banyak terjadi, maka dari itu kami berharap kedepannya hal serupa tidak terulang lagi di Lutim. Pada intinya kami tidak ada niat menghukum orang tetapi yang kami tindaki adalah perbuatannya,” ujarnya lagi.

Maka dari itu, mari kita jaga keberagaman dan saling toleransi antar ummat beragama untuk menciptakan rasa aman, damai dan tentram di Kabupaten Luwu Timur, imbuh Rauf.

Terpisah, Camat Towuti, Alimuddin Nasir mengungkapkan, persoalan ini hanya miskomunikasi dan saya sarankan untuk saling memaafkan dan mempererat kekeluargaan di instansi Puskesmas.

Menurutnya, manusia adalah tempat kesalahan dan kehilafan. Tetapi lagi-lagi sekiranya ketika kita berucap harus berhati-hati agar tidak terjadi ketersinggungan.

“Saya tarik kesimpulan dari persoalan ini bahwa ada kurang komunikasi antara Kapus dan Ibu bidan,” ucapnya.

Tadi saya pesan ke Kapus bahwa seorang pemimpin itu tidak serta merta kita langsung mengambil keputusan, kita harus menulusuri ketika ada persoalan, inilah pembalajaran buat kita untuk selalu lebih intens berkomunikasi dengan bawahan.

“Alhamdulillah, beliau terima dengan baik, dan berjanji akan merubah pola-pola selama ini. Karena disana adalah tempat pelayanan, maka dari itu saya meminta untuk mengedepankan kemanusian terhadap bawahan,” kuncinya.

Liputan: Amk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *