INPUTRAKYAT_MAKASSAR – Sebuah cerita dari masa lalu terkadang tidak benar-benar selesai ketika waktu berlalu. Perjuangan, kehilangan, ketakutan, hingga suara-suara yang pernah dibungkam dapat kembali menemukan maknanya ketika berhadapan dengan realitas hari ini. Itulah yang coba dihadirkan melalui film panjang Laut Bercerita, sebuah kisah yang membawa kembali ingatan tentang perjuangan aktivis 1998 sekaligus menyentuh kegelisahan generasi muda Indonesia.
Film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori tersebut hadir dengan cerita yang tidak sekadar berbicara tentang sejarah. Di dalamnya terdapat persoalan kemanusiaan, keberanian menyuarakan kebenaran, serta harapan tentang Indonesia yang lebih baik. Relevansi cerita itu menjadi salah satu pembahasan dalam media junket bersama para pemain dan tim produksi di MTOs, Makassar, Selasa (3/11/2026).
Produser Film Laut Bercerita, Gita Fara Praditya, mengungkapkan bahwa proyek tersebut sebenarnya telah dipersiapkan jauh sebelum situasi sosial dan politik belakangan ini berkembang. Perjalanan adaptasinya bahkan dimulai pada 2017 melalui sebuah film pendek yang dibuat bertepatan dengan peluncuran buku Laut Bercerita. Sementara proses pengembangan film panjangnya telah berjalan sekitar tiga tahun.
“Jadi sebenarnya bukan suatu karya yang kami buat untuk merespons kondisi saat ini. Tapi ketika bergulirnya waktu, tiba-tiba jadi lumayan relevan dengan apa yang terjadi saat ini di Indonesia,” kata Gita.
Bagi Gita, kedekatan cerita dengan kondisi sekarang bukan sesuatu yang sengaja dirancang. Film tersebut justru didedikasikan untuk anak-anak muda Indonesia yang berjuang melalui cara masing-masing demi memperjuangkan kebaikan bagi tanah air. Ia berharap cerita yang dihadirkan dapat menjadi pemantik semangat bagi generasi muda untuk tidak berhenti menyuarakan aspirasi.
Pandangan serupa disampaikan pemeran Biru Laut, Reza Rahadian. Ia melihat respons penonton, khususnya anak muda, sebagai sesuatu yang positif. Banyak dari mereka merasa cerita dalam film tersebut mewakili kegelisahan dan aspirasi yang selama ini ingin disampaikan. Menurut Reza, film dapat menjadi salah satu medium untuk menyuarakan harapan tentang masa depan Indonesia.
“Banyak sekali anak-anak muda yang merasa bahwa film ini juga mewakili aspirasi mereka, suara-suara mereka. Kemudian mereka juga jadi semangat untuk bisa menyuarakan kegelisahan dan mengutarakan harapan mereka untuk Indonesia yang lebih baik,” ujar Reza.
Reza juga menegaskan bahwa keterlibatannya dalam demonstrasi pada 28 Oktober lalu merupakan keputusan pribadi sebagai warga negara, bukan bagian dari agenda produksi film. Baginya, menyampaikan keresahan dapat dilakukan melalui berbagai medium, mulai dari tulisan, buku, media sosial hingga film. Ia ingin menegaskan bahwa sikap personal tersebut lahir dari kepedulian terhadap kondisi bangsa.
Sementara itu, pemeran Kasih Kinanti, Dian Sastrowardoyo, memilih mendekati karakternya melalui proses riset dan pendalaman yang cukup panjang. Ia tidak hanya membaca novel Laut Bercerita, tetapi juga mempelajari buku-buku yang dibaca oleh karakter yang diperankannya. Cara tersebut dilakukan untuk memahami perspektif, kebiasaan, serta cara berpikir tokoh secara lebih mendalam.
Proses pendalaman itu semakin kuat setelah Dian dan para pemain berkesempatan bertemu serta mewawancarai sejumlah aktivis yang terlibat dalam gerakan 1998. Dari percakapan tersebut, mereka memperoleh gambaran mengenai kehidupan para aktivis, mulai dari kekhawatiran sehari-hari, fokus perjuangan, hingga pengalaman yang membuat mereka berani mengambil sikap. “Kita berhasil bertemu dengan beberapa aktivis yang memang terlibat di 98. Kita mewawancarai mereka dan mendapatkan suasana yang benar-benar mereka alami saat itu,” tutur Dian.
Dari pengalaman para aktivis tersebut, Dian memahami bahwa keberanian untuk bergerak sering kali berawal dari pengalaman sederhana ketika seseorang menyaksikan ketidakadilan. Pengalaman itulah yang kemudian menumbuhkan panggilan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat. Melalui Laut Bercerita, kisah masa lalu kembali dihadirkan bukan sekadar untuk dikenang, melainkan juga mengajak generasi sekarang memahami arti keberanian, kepedulian, dan suara yang tidak seharusnya dibungkam.














