Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Menjelang 17 Agustus, SMPN 5 Malili Mengasah Kekompakan dan Kreativitas Siswa

128
×

Menjelang 17 Agustus, SMPN 5 Malili Mengasah Kekompakan dan Kreativitas Siswa

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM, — Pagi belum benar-benar ramai ketika barisan siswa SMP Negeri 5 Malili mulai bergerak. Langkah mereka belum sempurna. Sesekali ada gerakan yang terlambat, barisan yang melebar, atau aba-aba yang harus diulang. Tapi semangat untuk tampil terbaik menjelang 17 Agustus terus dipelihara.

Di Desa Wewangriu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, persiapan menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia bukan sekadar memasang umbul-umbul atau menghitung hari menuju upacara. Para siswa mengisinya dengan latihan, kreativitas, dan sejumlah perlombaan.

SMP Negeri 5 Malili tengah mematangkan persiapan untuk mengikuti rangkaian kegiatan peringatan kemerdekaan. Salah satunya lomba gerak jalan yang dijadwalkan berlangsung pada 13 Agustus 2026.

Latihan dilakukan rutin setiap hari. Pagi, siang, hingga sore. Para siswa mengulang gerakan, memperbaiki barisan, dan melatih kekompakan. Bagi mereka, gerak jalan bukan hanya soal siapa yang paling cepat atau paling rapi. Ada kerja bersama yang harus dibangun sebelum langkah pertama dimulai.

Kesibukan juga merambah ke ruang kreativitas. Para siswa membuat sendiri berbagai atribut dan perlengkapan untuk lomba. Guru-guru mendampingi proses tersebut, membiarkan gagasan siswa berkembang sekaligus memastikan hasilnya siap digunakan saat perlombaan.

Ada pula tugas lain yang tak kalah penting. SMP Negeri 5 Malili mendapat kepercayaan dari Dinas Pendidikan untuk bergabung dalam tim paduan suara bersama SMP Negeri 1 Malili dan SMP Negeri 2 Malili.

Tiga sekolah itu akan menyatukan suara dalam membawakan lagu-lagu kebangsaan pada rangkaian peringatan HUT ke-81 RI tingkat Kabupaten Luwu Timur.

Di sekolah, kemerdekaan juga dirayakan dengan cara yang lebih sederhana. Sejumlah perlombaan internal disiapkan untuk siswa. Ada lomba menghias kelas bertema kemerdekaan, kebersihan kelas dan lingkungan sekolah, hingga permainan tradisional seperti makan kerupuk, balap karung, memasukkan paku ke dalam botol, dan sambung lirik lagu-lagu perjuangan.

Permainan yang tampak sederhana itu menjadi bagian dari upaya sekolah menghidupkan kembali suasana perayaan kemerdekaan sekaligus mempertemukan siswa dalam suasana yang penuh kegembiraan dan kebersamaan.

Kepala SMP Negeri 5 Malili, Sinar Bintang Daling, S.Pd., mengatakan peringatan kemerdekaan tidak semestinya berhenti sebagai seremoni tahunan. Menurut dia, momentum tersebut dapat menjadi ruang untuk menanamkan nasionalisme kepada peserta didik.

“Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini adalah hasil pengorbanan besar para pahlawan yang gugur di medan perjuangan. Tugas kita sebagai generasi penerus di sekolah adalah melanjutkan perjuangan mereka melalui prestasi, kedisiplinan, dan kerja keras,” ujarnya saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Jumat (7/8/2026).

Menurut Sinar, perjuangan generasi sekarang memiliki bentuk yang berbeda. Siswa tidak lagi berhadapan dengan medan perang, tetapi dengan tantangan untuk belajar, berdisiplin, mengembangkan kemampuan, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Karena itu, ia meminta para siswa memanfaatkan masa sekolah sebaik mungkin.

“Siswa-siswi sekalian adalah tunas bangsa yang akan menentukan masa depan Indonesia. Belajarlah dengan sungguh-sungguh untuk membangun negeri ini.”

Pesan serupa ia sampaikan kepada guru dan tenaga kependidikan. Pendidikan, kata dia, tidak cukup hanya dengan menyampaikan pelajaran. Anak-anak membutuhkan pendampingan agar tumbuh dengan karakter dan semangat untuk berkontribusi bagi bangsa.

“Kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan, mari terus membimbing anak-anak kita dengan hati yang tulus demi mencerdaskan kehidupan bangsa,” tambahnya.

Di tengah latihan yang melelahkan dan persiapan yang terus dikebut, perayaan kemerdekaan di SMP Negeri 5 Malili akhirnya kembali pada satu hal: bagaimana siswa belajar menghargai proses.

Mereka belajar bahwa satu langkah harus mengikuti langkah yang lain. Satu suara harus menyatu dengan suara lainnya. Dan sebuah penampilan yang tampak sederhana di depan publik membutuhkan latihan panjang di belakangnya.

Sinar Bintang Daling berharap semangat itu tidak berhenti setelah perlombaan dan upacara selesai.

“Mari kita jadikan momentum 17 Agustus ini sebagai penyemangat untuk bersatu, berkarya, dan berprestasi. Dirgahayu Republik Indonesia! Sekali merdeka, tetap merdeka,” tutupnya. (Solihin).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *