INPUTRAKYAT _ JAKARTA – Limbah sabut kelapa mulai didorong naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi. Tim Riset Bestari Saintek Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) dan Yayasan Kawan Lama menginisiasi kemitraan untuk mengembangkan pewarna alam, memperkuat perajin tenun, melestarikan budaya, sekaligus membuka akses pasar nasional hingga internasional.
Pertemuan kemitraan tersebut berlangsung di Kantor Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kemendikti Saintek, Jakarta, Rabu, 9 September 2026. Pertemuan difasilitasi Direktur Minat Saintek Prof. Yudi Darma dan mempertemukan program Bestari Saintek Living Laboratorium The Green Gold Kelapa Selayar Sulawesi Selatan dengan program Yayasan Kawan Lama.
Ketua Tim Riset Bestari Saintek Polipangkep, Zulfitriany Mustaka, mengatakan kemitraan ini menjadi momentum mempertemukan kekuatan riset dengan pengalaman pemberdayaan perajin dan pengembangan pasar.
“Riset jangan berhenti di laboratorium. Kita ingin hasil riset digunakan masyarakat, memberi nilai tambah, dan memiliki pasar,” kata Zulfitriany.
Melalui Program Bestari Saintek Living Lab The Green Gold Kelapa 2026, sabut kelapa dikembangkan menjadi Cocodye, zat pewarna alam yang berasal dari limbah pertanian. Inovasi tersebut merupakan pengembangan dari rekomendasi Program Berdikari Emas 2024-2025 dan diperkuat melalui riset Bestari Saintek dalam formulasi keberagaman warna serta daya tahan.
Hingga September 2026, program tersebut telah mengolah sekitar dua ton sabut kelapa. Hasilnya berupa 50 meter wastra tenun serta 220 meter wastra sutera dan batik.
Program juga telah melibatkan perajin dari 19 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan. Pendapatan perajin yang terlibat berada pada kisaran lebih dari Rp500 ribu hingga Rp3 juta per bulan.
“Yang kita bangun bukan sekadar produk pewarna. Pengetahuan, bahan lokal, teknologi dan keterampilan perajin harus bertemu sehingga menghasilkan produk yang bernilai,” ujar Zulfitriany.
Program Bestari Saintek juga melibatkan delapan lembaga atau organisasi, yakni TP PKK Provinsi, Dekranasda, Bunda PAUD dan IWAPI, Koads, Forkesi, Ekosistem Super, Pinisi Sulsel, Perempuan Indonesia Maju dan Pertadin, serta satu lembaga pendidikan.
Prof. Yudi Darma menekankan pentingnya kolaborasi untuk membangun ekosistem hidup berbasis sains dan teknologi di setiap wilayah untuk menjawab persoalan lingkungan kewilayahan.
“Potensi lokal kita sangat besar. Tugas kita adalah memastikan sains dan teknologi membuat potensi itu menjadi nilai tambah bagi masyarakat,” katanya.
Di sisi lain, Ketua Yayasan Kawan Lama, Tasya Widya mengatakan pengalaman Kawan Lama dalam pemberdayaan perajin menjadi modal penting untuk memperkuat pengembangan pewarna alam dan produk wastra.
Salah satu program yang dikembangkan Yayasan Kawan Lama adalah Aram Bekelala Tenun Iban di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Program tersebut mengembangkan pewarna alam berbasis tanaman lokal di wilayah konservasi UNESCO yang kaya budaya namun memiliki keterbatasan akses.
Program tersebut melibatkan Cita Tenun Indonesia dan desainer Wilsen Willim. Kawan Lama juga menghubungkan potensi lokal dengan ekosistem ritel yang telah berkembang selama 70 tahun di Indonesia.
Khusus pewarnaan alam, program Aram Bekelala berhasil mengembangkan variasi warna alami dari enam menjadi 69 warna dengan memanfaatkan daun ketapang, kayu tebelian, daun kratom dan sekitar 20 jenis tanaman lainnya.
Dampaknya, pendapatan perajin perempuan Dayak Iban meningkat hingga 360 persen. Produk mereka juga telah dibawa ke panggung mode, termasuk Jakarta Fashion Week.
Pengalaman tersebut menjadi titik temu dengan riset Polipangkep yang mengembangkan pewarna alam dari berbagai limbah pertanian, seperti kulit alpukat, kulit rambutan, kulit manggis, kayu secang dan sabut kelapa.
“Pengalaman Kawan Lama dalam membangun ekosistem perajin dan pasar menjadi peluang untuk memperkuat hilirisasi hasil riset yang dikembangkan Polipangkep,” kata Zulfitriany.
Kemitraan ini tidak hanya diarahkan pada pengembangan produk, tetapi juga pemetaan potensi plasma nutfah sebagai sumber pewarnaan alam sandang di Indonesia.
Kolaborasi akan mencakup pengembangan sumber daya manusia, pendidikan, kerja sama institusi, pemberdayaan perajin tenun tradisional, regenerasi penerus perajin, pelestarian budaya serta penciptaan pasar bagi produk unggulan wilayah.
Pertemuan tersebut turut dihadiri Chief Foundation Officer Kawan Lama Foundation Chondro Rini dan Project & Development Manager Kawan Lama Foundation Clara.
Yogi Herdani selaku Ketua PMO Bestari Saintek menyambut baik inisiasi kemitraan dengan harapan menjadi langkah konkret mempertemukan perguruan tinggi, yayasan, pemerintah dan masyarakat dalam mendorong hilirisasi riset.
“Harapannya, kolaborasi ini menjadi model bagaimana riset perguruan tinggi bisa benar-benar memberi dampak sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan,” ujarnya.
Dari pertemuan tersebut, Tim Riset Bestari Saintek Polipangkep dan Yayasan Kawan Lama mulai merancang dokumen kerja sama. Fokusnya adalah membawa inovasi pewarna alam dari potensi lokal menuju produk wastra yang memiliki nilai tambah dan akses pasar lebih luas.














