Example 728x250
Example 728x250
Input Lutim

Umat Hindu di Luwu Timur Peringati Dharmasantih

483
×

Umat Hindu di Luwu Timur Peringati Dharmasantih

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM,–Umat hindu di Kabupaten Luwu Timur memperingati Dharmasantih yang bertemakan “melalui dharmasanti  kita tingkatkan solidaritas sebagai perekat keragaman dalam menjaga kerukunan antar dan intern umat beragama. Peringatan itu berlangsung di Wantilan Pura Agung Amertasari Desa Taripa Kecamatan Angkona, Sabtu (21/04/2018).

Dalam laporan ketua panitia I Gede Widarta mengatakan bahwa  pelaksanaan nyepi  adalah konsep memulai dari nol dan kembali pada nol. Konsep memulai dari nol sebagai konsep nyepi sebagai keheningan (nol) kemudian setelah pelaksanaan nyepi kembali pada nol yaitu mencapai moksatam jagadhita.

“Dalam konteks untuk pencapaian jagadhita  (kesejahteraan) pada kehidupan nyata maka dilaksanakanlah dharma santi pada awal tahun baru saka yang bertujuan untuk menjaga harmonisasi manusia dengan manusia , dan manusia dengan lingkungan,” katanya

Dalam konteks kesejahteraan alam nyata perlu kita melakukan interkoneksi dengan lingkungan dengan masyarakat sehingga pada saat memulai yang baru kita memulai dengan acara dharma santih,” jelasnya.

Kegiatan dharmasanti desa taripa merupakan dharmasanti yang pertama kalinya diadakan di desa taripa.

Bupati Luwu Timur , H.M thorig Husler yang hadir secara langsung dalam acara Dharma Santih mengapresiasi acara Dharma Santih yang digelar oleh umat Hindu tersebut.

Menurut dia, jika dalam ajaran Islam, Dharma Santih itu sama dengan Halal Bihalal. “Pada dasarnya sama, jadi disini bisa kita melihat bahwa tidak ada persatuan tanpa adanya keberagaman atau perbedaan,” katanya.

Husler juga menyatakan, bahwa di Kabupaten Luwu Timur kehidupan masyarakatnya sangat pluralis. Artinya, hampir semua suku dan agama ada di Luwu timur, mulai dari Islam, Hindu, Budha, Kriten maupun Protestan. Begitu juga suku disini sangat beragam. Salah satu cara menjaga keberagaman itu adalah saling menghargai satu sama lainnya.

“Perbedaan itu bukan hal yang harus diperdebatkan. Tapi dihargai sebagai hal yang memang lumrah adanya” jelas Husler.

Liputan: Febi | Editor: Amk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *