Example 728x250
Example 728x250
Input Lutra

Tudang Ade’ dan Festival Kuliner FKN XIII di Lutra Meriah

440
×

Tudang Ade’ dan Festival Kuliner FKN XIII di Lutra Meriah

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTRA,–Pelaksanaan Tudang Ade’ dan Festival Kuliner berbahan dasar Sagu di Luwu Utara, sebagai rangkaian kegiatan Festival Keraton Nusantara (FKN) XIII Tana Luwu berlangsung meriah.

Pasalnya, para Raja dan Sultan se-Nusantara dan mancanegara hadir membawa senyum, dan pulang juga membawa senyum. Sekali lagi, sebuah kesuksesan yang patut diapresiasi.

Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani mengawali sambutannya dengan mengutip salah satu kalimat pembuka dari Chapter I La Galigo, sebuah sureg atau babak terpanjang di dunia yang telah mendapatkan pengakuan dari Unesco sebagai warisan dunia.

“Narekko malupuko mittamako ritenganna Baebunta. (Kalau kamu lapar, maka masuklah di wilayah Kemakolean Baebunta). Kemakolean Baebunta adalah wilayah yang masuk ke dalam kekuasaan Kedatuan Luwu,” kata Indah.

Kemudian Bupati Indah Putri Indriani melanjutkan bahwa Secara administrasi, Kemakolean Baebunta berada di wilayah Kabupaten Luwu Utara.

“Inilah yang kemudian mengilhami pelaksanaan Tudang Ade’ dan Festival Kuliner Berbahan Sagu sebagai rangkaian kegiatan Festival Keraton Nusantara ke-13 di Tana Luwu,” terang bupati perempuan pertama di Luwu Utara itu

Indah menjelaskan bahwa Tana Luwu, kaya akan sumber daya alam.

“Tana Luwu adalah tanah yang diturunkan dan dihamparkan, tanah yang diberkati Allah Swt. Tanah yang di dalamnya harus dipastikan tidak ada orang yang menangis karena kelaparan. Arti bebasnya adalah kalau lapar tidak usah ke mana-mana, datang saja di Tana Luwu,” sambungnya.

Ia menambahkan, pelaksanaan dua kegiatan ini adalah momentum melihat indahnya perbedaan yang dihadirkan dalam satu momentum Festival Keraton Nusantara.

“Hari ini kita bisa melihat berbagai perbedaan, tapi perbedaan itu kemudian tidak memisahkan kita satu sama lain, justru mempersatukan kita pada hari ini. Di tempat ini ada yang berbeda agama, adat dan suku. Inilah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada kita,” pungkasnya.

Liputan: Rk | Editor: Redaksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *