Example 728x250
Example 728x250
BeritaInput Makassar

Bukan Lagi Soal Jabatan, Makassar Leadership Summit Uji Makna Pemimpin di Era AI

32
×

Bukan Lagi Soal Jabatan, Makassar Leadership Summit Uji Makna Pemimpin di Era AI

Sebarkan artikel ini
Foto : Ist.

INPUT RAKYAT_MAKASSAR – Teknologi berubah cepat, tetapi cara banyak organisasi mengambil keputusan dan mengelola manusia tidak selalu bergerak secepat itu. Kecerdasan artifisial mengubah pola kerja, tekanan kinerja meningkat, sementara pemimpin tetap dituntut menjaga kepercayaan dan memastikan organisasi tidak kehilangan arah.

 

Persoalan itu menjadi bagian dari pembahasan dalam Makassar Leadership Summit (MLS) 2026 di Makassar, 8 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan sejumlah pemimpin nasional dan pelaku bisnis untuk membicarakan perubahan kepemimpinan dari berbagai sisi.

 

H.M. Jusuf Kalla dijadwalkan membahas pengalaman kepemimpinan dari Indonesia Timur melalui sesi “Leading from the East”. Salah satu persoalan yang diangkat adalah bagaimana keberanian mengambil tanggung jawab dan keputusan diterapkan ketika organisasi berhadapan dengan persoalan nyata.

 

Menteri Ketenagakerjaan Prof. Yassierli, Ph.D. akan membahas transformasi birokrasi dan kebijakan ketenagakerjaan. Perubahan dunia kerja menuntut birokrasi tidak hanya bekerja berdasarkan prosedur, tetapi juga merespons persoalan dengan lebih cepat dan berorientasi pada hasil.

 

Di sektor bisnis, Irfan Setiaputra, Tommy Watimena dan Neneng Goenadi akan membahas perubahan organisasi. Topiknya antara lain resistensi terhadap perubahan, keputusan sulit dan upaya mengubah status quo.

 

Persoalan kepemimpinan juga bersinggungan dengan hubungan antara target dan manusia. Tema seperti kepemimpinan yang inklusif, human centered leadership dan resilience menunjukkan bahwa kemampuan mencapai target bukan satu-satunya persoalan yang dihadapi pemimpin.

 

Kehadiran AI menambah lapisan persoalan baru. Organisasi tidak hanya perlu memutuskan teknologi apa yang digunakan, tetapi juga bagaimana teknologi tersebut mempengaruhi pekerjaan, pelanggan, proses pengambilan keputusan dan posisi manusia di dalam organisasi.

 

Ketua Panitia MLS 2026 Fauziah Zulfitri mengatakan perubahan tersebut membuat pemimpin perlu mempertanyakan kembali cara mereka menjalankan peran.

 

“Pemimpin seperti apa yang dibutuhkan oleh masa depan?” ujar Fauziah.

 

Wakil Direktur GNIK Area Sulsel Hasnaeni Asri mengatakan organisasi membutuhkan pemimpin yang mampu membaca perubahan sekaligus menggerakkan manusia untuk menghadapinya.

 

“Kita sedang berada pada fase ketika organisasi tidak hanya membutuhkan leader yang mampu mencapai target, tetapi leader yang mampu membaca perubahan dan menggerakkan manusia untuk menghadapinya bersama,” katanya.

 

Menurut Hasnaeni, pengembangan kepemimpinan tidak cukup berupa pengetahuan. Cara berpikir, mengambil keputusan dan memperlakukan manusia menjadi bagian yang menentukan.

 

Pada akhirnya, tantangan kepemimpinan di tengah disrupsi bukan hanya soal seberapa cepat organisasi mengadopsi teknologi. Persoalannya juga terletak pada kemampuan pemimpin menyesuaikan cara berpikir, mengambil keputusan dan menjaga manusia ketika perubahan datang lebih cepat dari sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *