INPUTRAKYAT_MORUT,— Bagi Letkol Inf Boyke Baja Imanuel Sirait, penugasan di Morowali bukan sekadar perpindahan tempat kerja. Sejak menerima perintah sebagai Komandan Kodim 1311/Morowali, ia membawa satu prinsip yakni kehadiran TNI harus meninggalkan jejak yang bisa dirasakan masyarakat.
“Kalau datang ke suatu tempat, harus ada sesuatu yang dibangun dan ditinggalkan untuk masyarakat,” kata Boyke dalam pertemuan dengan wartawan di Morowali Utara, Kamis (27/8/2026).
Prinsip itu mulai ia terapkan sehari setelah tiba di Morowali. Ia mendapat tugas menuju sebuah pulau. Di sana, personel TNI membangun jalan sepanjang sekitar 400 meter.
Pekerjaan itu kemudian melebar. Rumah ibadah yang kondisinya tak layak diperbaiki. Fasilitas air bersih dibangun. Dua masjid turut mendapat perhatian.
Saat berada di lokasi, mereka menemukan persoalan lain. Atap sebuah sekolah dasar bocor, sementara sebuah sekolah menengah pertama juga membutuhkan perbaikan. Lapangan untuk masyarakat ikut dibangun.
Seluruh pekerjaan itu, kata Boyke, berlangsung selama sekitar satu bulan. Hasilnya akan dilaporkan kepada pimpinan di Jakarta.
Ia bahkan mempersilakan wartawan melihat langsung hasil pekerjaan tersebut. Baginya, keterbukaan itu penting agar program tidak berhenti sebagai laporan administratif.
“Saya bilang 150 persen. Kami berusaha mengerjakannya semaksimal mungkin,” ujarnya.
Penugasan yang Tak Sesuai Rencana
Morowali sebenarnya bukan wilayah yang sejak awal ada dalam rencana penugasannya. Boyke mengatakan informasi pertama yang ia terima menyebut dirinya akan ditempatkan di Tangerang.
Perintah pimpinan kemudian berubah.
“Namanya tentara, kalau sudah mendapat perintah dari pimpinan, saya harus melaksanakan tugas,” katanya.
Perubahan itu justru ia jadikan kesempatan untuk membangun pola pendekatan baru. Ia ingin kehadiran Kodim tidak hanya terlihat ketika menjalankan tugas pertahanan dan keamanan, tetapi juga ketika masyarakat menghadapi persoalan sosial.
Meski demikian, Boyke menegaskan kegiatan kemasyarakatan tidak akan menggeser tugas pokok TNI.
“Kegiatan-kegiatan yang memang menjadi tugas dan kewajiban kami tetap akan kami laksanakan,” ujarnya.
Panti Asuhan Jadi Sasaran Berikutnya
Program sosial lain yang sedang disiapkan adalah pembangunan panti asuhan di Morowali dan Morowali Utara.
Boyke mengaku telah membicarakan rencana itu dengan bupati. Lokasi pembangunan masih akan dibahas bersama pemerintah daerah dan pihak terkait.
Konsep panti asuhan yang ia bayangkan bukan sekadar tempat tinggal. Tempat itu diharapkan menjadi ruang pembinaan dan pendidikan sehingga anak-anak tetap bisa bersekolah serta memiliki kesempatan menentukan masa depannya.
“Harapannya, setelah mereka menyelesaikan pendidikan, mereka bisa menentukan masa depan sesuai kemampuan dan cita-citanya. Bisa menjadi tentara, polisi, pendeta, atau profesi lainnya,” katanya.
Untuk Morowali Utara, program tersebut menjadi salah satu perhatian yang ingin ia dorong lebih jauh. Namun ia mengakui masih membutuhkan waktu untuk memetakan kebutuhan masyarakat karena baru sekitar sebulan bertugas.
Selain panti asuhan, Kodim akan mendata rumah warga yang tidak layak huni. Lansia dan janda yang tinggal di rumah dengan kondisi buruk menjadi salah satu kelompok yang akan diperhatikan.
Membuka Ruang Pengawasan Media
Boyke juga meminta media ikut mengawasi program-program yang dijalankan Kodim.
Ia tak ingin rencana yang disampaikan kepada publik berhenti menjadi janji.
“Saya sudah berjanji kepada rekan-rekan media bahwa program-program tersebut bisa diawasi. Jadi bukan hanya berbicara, tetapi benar-benar harus ada yang dibangun dan dikerjakan,” katanya.
Menurut dia, media merupakan bagian dari kontrol sosial. Karena itu, komunikasi dengan wartawan tidak semestinya hanya berlangsung ketika ada kegiatan seremonial atau persoalan yang muncul.
Boyke berencana menggelar pertemuan rutin dengan wartawan, kemungkinan sekali dalam sebulan. Forum itu akan digunakan untuk bertukar informasi sekaligus menerima kritik dan masukan.
“Bagi saya, media juga merupakan bagian dari kontrol sosial. Karena itu, komunikasi dengan wartawan sangat penting,” ujarnya.
HUT TNI Tak Cukup dengan Seremoni
Pendekatan serupa akan diterapkan dalam peringatan HUT TNI pada 5 Oktober mendatang. Pada momentum tersebut, Kodim juga akan memperingati hari jadinya.
Boyke ingin perayaan tidak hanya menjadi acara internal TNI. Masyarakat dan media akan dilibatkan dalam berbagai kegiatan.
Usulan kegiatan seperti lomba domino, catur, maupun kegiatan lain yang sesuai dengan karakter masyarakat Morowali dan Morowali Utara terbuka untuk dibicarakan.
Menurut dia, peringatan HUT TNI seharusnya menjadi momentum memperkuat kedekatan antara prajurit dan masyarakat.
“Dalam rangka HUT TNI, kita tidak hanya membuat kegiatan seremonial, tetapi juga bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat dan melibatkan masyarakat serta media,” katanya.
Menaruh Perhatian pada Lingkungan
Persoalan lingkungan juga masuk dalam perhatian Kodim. Potensi kebakaran hutan dan lahan, baik akibat faktor alam maupun dugaan kesengajaan, dinilai perlu diantisipasi bersama.
Isu tersebut dinilai relevan karena Morowali merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas pertambangan yang intensif.
Boyke mengatakan aktivitas industri, termasuk pertambangan, harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan.
“Apalagi di wilayah ini terdapat aktivitas pertambangan. Kita harus bersama-sama menjaga agar lingkungan tidak semakin rusak,” ujarnya.
Pada akhirnya, Boyke ingin keberadaannya di Morowali dan Morowali Utara tidak hanya diukur dari pelaksanaan tugas kemiliteran.
Ia ingin masa penugasannya meninggalkan sesuatu yang dapat dilihat dan dirasakan warga: jalan yang terbangun, rumah ibadah yang diperbaiki, air bersih yang tersedia, sekolah yang dibantu, rumah warga yang dibenahi, hingga anak-anak yang mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan.
“Intinya, kami ingin hadir bukan hanya untuk menjalankan tugas, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.














