Example 728x250
Example 728x250
Input Parlemen

Saat “Tikka” Datang, Legislator Sarkawi Minta Irigasi Jangan Menunggu Krisis

19
×

Saat “Tikka” Datang, Legislator Sarkawi Minta Irigasi Jangan Menunggu Krisis

Sebarkan artikel ini

INPUTRAKYAT_LUTIM, — Kemarau panjang menguji kemampuan daerah menjaga produksi pangan. Namun di Dusun Landegora, Desa Lanosi, Kecamatan Burau, persoalan itu belum terlihat pada tanaman padi. Sawah masih hijau dan sebagian tanaman disebut segera memasuki masa panen.

Anggota DPRD Luwu Timur Sarkawi A Hamid melihat kondisi tersebut saat melakukan peninjauan ke lahan persawahan Landegora.

Yang menarik perhatian bukan hanya tanaman yang tetap tumbuh, melainkan keberadaan jaringan irigasi yang masih mampu menopang kebutuhan air sawah ketika hujan berkurang.

Sarkawi menilai situasi itu memberikan pelajaran penting bagi kebijakan pertanian daerah. Ketahanan pangan, kata dia, tidak cukup dibangun melalui bantuan kepada petani atau peningkatan produksi. Infrastruktur air juga harus dipastikan mampu bekerja ketika musim berubah.

Ia menyebut jaringan irigasi sebagai salah satu bentuk perlindungan terhadap petani dari risiko kekeringan.

“Di tengah kondisi kemarau panjang, alhamdulillah kita di Luwu Timur tidak kekurangan air. Persawahan kita ini juga tidak kekurangan air dan tidak lama lagi segera memasuki masa panen,” kata Sarkawi.

Menurut dia, keberhasilan satu kawasan mempertahankan produksi di tengah tikka tidak boleh membuat pemerintah lengah. Sebaliknya, kondisi tersebut harus menjadi momentum untuk mengevaluasi jaringan irigasi di kawasan pertanian lainnya.

DPRD, kata Sarkawi, akan memberikan dukungan terhadap program pemerintah daerah yang diarahkan untuk memperkuat infrastruktur pengairan.

“Kita akan mengawal terus bagaimana agar jaringan irigasi terus diperkuat,” ujarnya.

Sarkawi mengingatkan, kerusakan atau keterbatasan jaringan irigasi dapat langsung berdampak pada petani. Ketika pasokan air terganggu, masa tanam dapat berubah, produktivitas turun dan waktu panen berpotensi mundur.

Karena itu, pembangunan irigasi seharusnya tidak dilakukan dengan pendekatan reaktif. Pemerintah perlu mengetahui sejak awal wilayah mana yang rawan kekeringan, kondisi saluran, kapasitas sumber air dan kebutuhan lahan pertanian.

Pendekatan tersebut, menurut Sarkawi, penting karena Luwu Timur memiliki kawasan pertanian yang menjadi salah satu penopang produksi pangan daerah.

Ia meminta penguatan irigasi menjadi bagian dari perencanaan pembangunan jangka panjang. Perawatan saluran yang telah tersedia juga dinilai sama pentingnya dengan pembangunan jaringan baru.

“Jangan sampai ketika kemarau baru kita bergerak. Infrastruktur air harus disiapkan dan diperkuat sejak awal,” katanya.

Bagi Sarkawi, tanaman padi yang tetap hijau di Landegora bukan sekadar kabar baik bagi petani. Kondisi itu menunjukkan bahwa ketika infrastruktur air tersedia dan berfungsi, risiko musim kering dapat ditekan.

DPRD Luwu Timur pun mendorong agar pola serupa diterapkan di sentra-sentra pertanian lain. Target akhirnya bukan hanya menjaga satu musim panen, melainkan memastikan petani memiliki kepastian produksi ketika kemarau kembali datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *